Purbaya baru-baru ini menyampaikan pandangan yang cukup tegas soal peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN. Menurut dia, APBN tidak bisa diandalkan sebagai satu-satunya alat untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pernyataan ini langsung menarik perhatian karena selama ini banyak pihak masih berharap besar pada belanja negara untuk menggerakkan roda ekonomi.
Dalam praktiknya, APBN memang berfungsi sebagai instrumen fiskal yang penting. Pemerintah bisa mengalokasikan dana untuk infrastruktur, subsidi, atau program sosial. Namun Purbaya menekankan bahwa anggaran tersebut memiliki keterbatasan. Belanja negara tidak selalu mampu menjangkau seluruh lapisan ekonomi secara merata dan cepat.
Salah satu analisis tambahan yang relevan adalah pentingnya peran sektor swasta dan investasi asing. Ketika APBN hanya menjadi pendorong awal, pertumbuhan yang berkelanjutan justru lebih banyak ditentukan oleh aktivitas bisnis dan penciptaan lapangan kerja di luar pemerintah. Tanpa iklim investasi yang kondusif, efek dari belanja negara cenderung bersifat sementara.
Selain itu, efisiensi dan transparansi pengelolaan APBN juga menjadi faktor kunci. Banyak program yang sudah dirancang dengan baik di atas kertas, tetapi pelaksanaannya di lapangan sering menghadapi hambatan birokrasi atau kebocoran. Hal ini membuat dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat tidak seoptimal yang diharapkan.
Purbaya tampaknya ingin mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif membutuhkan kombinasi kebijakan. Selain fiskal, diperlukan dukungan dari sisi moneter, regulasi yang ramah usaha, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. APBN bisa menjadi katalis, tapi bukan mesin utama.
Masyarakat dan pelaku usaha perlu memahami bahwa kesejahteraan jangka panjang bergantung pada produktivitas dan inovasi di tingkat akar rumput. Bukan semata-mata menunggu aliran dana dari pusat. Pandangan ini membuka ruang diskusi lebih luas tentang bagaimana Indonesia sebaiknya menyeimbangkan peran negara dan pasar dalam mendorong ekonomi ke depan.





