Cara Menjaga Kesehatan Mental di Tengah Rasa Tidak Didengar

Ada masa-masa ketika suara kita terasa pelan, bukan karena kita tidak berbicara, melainkan karena tidak ada yang benar-benar mendengarkan. Kita menyampaikan cerita dengan kata-kata yang tertata, namun respons yang datang hanya anggukan singkat, pengalihan topik, atau bahkan keheningan. Dalam momen seperti itu, ada sesuatu yang perlahan mengendap di dalam diri: perasaan tidak dianggap. Bukan kemarahan yang langsung meledak, melainkan kelelahan batin yang samar namun menetap.

Perasaan tidak didengar sering kali disederhanakan sebagai persoalan komunikasi. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, ia menyentuh lapisan yang lebih dalam: kebutuhan manusia untuk diakui. Secara psikologis, didengar bukan sekadar soal menerima informasi, tetapi tentang validasi keberadaan. Ketika pengalaman, emosi, atau pandangan kita tidak mendapat ruang, kesehatan mental bisa tergerus perlahan, tanpa gejala yang dramatis, namun konsisten.

Saya teringat sebuah percakapan sederhana dengan seorang teman lama. Ia bercerita panjang tentang pekerjaannya, lalu berhenti sejenak, menatap saya, dan berkata, “Sebenarnya aku tidak butuh solusi. Aku cuma ingin didengar.” Kalimat itu terdengar biasa, tetapi menyimpan kejujuran yang jarang diucapkan. Banyak dari kita menjalani hari-hari dengan kebutuhan serupa, namun tidak selalu berani mengakuinya, bahkan kepada diri sendiri.

Dalam konteks kehidupan modern, rasa tidak didengar sering kali diperparah oleh ritme yang serba cepat. Percakapan dipotong notifikasi, perhatian terpecah layar, dan empati dikalahkan oleh keinginan untuk segera menanggapi. Kita hidup di era respons instan, tetapi ironisnya, semakin jarang benar-benar hadir. Di sinilah kesehatan mental diuji: bagaimana tetap utuh ketika ruang untuk mengekspresikan diri terasa menyempit.

Langkah pertama menjaga kesehatan mental saat merasa tidak didengar adalah mengenali perasaan itu tanpa menghakimi. Alih-alih menepisnya sebagai sikap berlebihan, kita perlu mengakui bahwa rasa kecewa dan lelah itu valid. Pengakuan ini bukan bentuk kelemahan, melainkan fondasi kesadaran diri. Dengan mengenali apa yang kita rasakan, kita memberi diri sendiri kesempatan untuk merespons dengan lebih bijak, bukan reaktif.

Ada kisah kecil yang sering terulang dalam kehidupan sehari-hari: kita berbicara, lalu merasa bersalah karena dianggap terlalu banyak mengeluh. Padahal, mungkin yang terjadi bukan kita terlalu banyak bicara, melainkan lingkungan yang kurang menyediakan ruang aman untuk mendengar. Dalam situasi seperti ini, menjaga kesehatan mental berarti berani membedakan antara tanggung jawab emosional diri sendiri dan keterbatasan orang lain.

Secara argumentatif, penting untuk menyadari bahwa tidak semua orang mampu menjadi pendengar yang baik, dan itu bukan selalu cerminan nilai diri kita. Menggantungkan rasa berharga sepenuhnya pada respons orang lain adalah beban yang terlalu berat. Kesehatan mental menuntut keseimbangan: antara kebutuhan untuk didengar dan kemampuan untuk berdiri sendiri secara emosional. Ini bukan ajakan untuk menjadi tertutup, melainkan untuk lebih selektif dan sadar.

Mengamati pola relasi juga menjadi langkah penting. Apakah kita sering berada di posisi yang mendengarkan, tetapi jarang didengarkan? Apakah ada kecenderungan tertentu dalam memilih lingkungan atau orang-orang yang kurang responsif secara emosional? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Cukup diamati perlahan, seperti mencatat pola cuaca dalam jurnal harian.

Di sisi lain, menjaga kesehatan mental juga berarti membangun ruang alternatif untuk menyalurkan pikiran. Menulis, berjalan sendirian, atau sekadar duduk tanpa distraksi bisa menjadi bentuk mendengarkan diri sendiri. Ketika dunia luar terasa bising dan kurang peduli, kembali ke dialog batin sering kali menjadi penyelamat yang sunyi namun efektif. Di sana, kita tidak perlu menjelaskan atau meyakinkan siapa pun.

Ada momen ketika kita akhirnya menemukan seseorang yang benar-benar mendengarkan, dan pengalaman itu terasa hampir menyembuhkan. Namun, menggantungkan harapan hanya pada momen seperti itu bisa menimbulkan kekecewaan baru. Kesehatan mental yang berkelanjutan justru dibangun dari kemampuan untuk menciptakan rasa didengar di dalam diri sendiri, terlepas dari respons eksternal.

Perlu juga disadari bahwa merasa tidak didengar tidak selalu berarti kita benar-benar diabaikan. Kadang, perbedaan gaya komunikasi, latar belakang, atau kondisi emosional orang lain memengaruhi cara mereka merespons. Dengan perspektif ini, kita bisa mengurangi kecenderungan mengambil segalanya secara personal, tanpa mengabaikan kebutuhan emosional sendiri.

Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental saat merasa tidak didengar adalah proses yang tidak instan. Ia menuntut kesabaran, refleksi, dan keberanian untuk menata ulang ekspektasi. Bukan untuk menjadi dingin atau acuh, tetapi untuk tetap hangat tanpa terbakar. Dalam keheningan yang kita rawat dengan sadar, mungkin kita akan menemukan bahwa suara kita tidak pernah benar-benar hilang—ia hanya menunggu untuk didengarkan, pertama-tama oleh diri kita sendiri.